BEIJING – Geopolitik dunia berada di titik didih setelah Menteri Pertahanan China, Laksamana Dong Jun, mengeluarkan pernyataan paling agresif terhadap Amerika Serikat dalam dekade ini. Menanggapi keputusan sepihak Washington melalui US CENTCOM yang memberlakukan blokade maritim total terhadap pelabuhan Iran mulai Senin (13/04/2026), Beijing secara resmi menyatakan tidak akan tunduk pada aturan tersebut. Laksamana Dong Jun menegaskan bahwa kapal-kapal tanker dan niaga China akan tetap beroperasi keluar-masuk Selat Hormuz untuk menjalankan komitmen perdagangan energi yang sah dengan Teheran. "Kami memiliki kesepakatan komersial dan energi yang mengikat dengan Iran. Kami akan menghormatinya dan kami mengharapkan pihak lain untuk tidak mencampuri urusan kami," tegas Laksamana Dong Jun dalam pernyataan resminya. Ia juga menambahkan poin krusial yang menantang hegemoni maritim AS dengan menyebut bahwa Iran memegang kendali atas Selat Hormuz dan jalur tersebut tetap terbuka bagi kepentingan China. Pernyataan ini dipandang para analis sebagai pengakuan de facto Beijing terhadap otoritas Iran atas jalur air strategis tersebut, sebuah posisi yang secara langsung berbenturan dengan doktrin "Kebebasan Navigasi" yang diusung oleh Angkatan Laut AS (US Navy). Ketegangan ini bukan sekadar retorika. Laporan intelijen maritim menunjukkan bahwa China telah menyiagakan satuan tugas angkatan lautnya di sekitar Teluk Oman, termasuk kapal perusak tipe 052D, yang diduga siap memberikan pengawalan bersenjata bagi tanker-tanker minyak milik BUMN China. Bagi Beijing, blokade AS adalah ancaman eksistensial terhadap ketahanan energi nasional mereka; Iran merupakan pemasok minyak mentah utama yang menyokong pertumbuhan industri China di tengah sanksi barat lainnya. Jika pasukan AS mencoba mencegat, menaiki, atau mengalihkan kapal berbendera China, hal itu dapat memicu eskalasi militer langsung antara dua kekuatan nuklir terbesar dunia. Di sisi lain, Washington bersikeras bahwa blokade ini diperlukan untuk memutus aliran dana militer Teheran setelah kegagalan negosiasi nuklir di Islamabad. Namun, dengan masuknya China sebagai "pelindung" jalur perdagangan Iran, efektivitas blokade AS kini dipertanyakan. Situasi di Selat Hormuz saat ini menyerupai permainan "perang urat syaraf" di mana satu kesalahan kecil dalam intersepsi kapal dapat mengubah krisis regional menjadi konflik global yang menghancurkan. Pasar energi dunia merespons situasi ini dengan kepanikan, di mana harga minyak Brent melesat melampaui angka $100 per barel hanya beberapa jam setelah pernyataan Dong Jun dirilis.
Tuesday, April 14, 2026
Kapal tanker dan kapal niaga China tetap beroperasi keluar masuk selat Hormuz
Tags
